Vihara

Vihara. Sering jalan itu kulewati. Jalan dimana vihara itu berdiri. Vihara yang kecil dan sederhana tanpa ornamen penghias layaknya vihara-vihara di negeri panda. Tempatnya lapang dan luas. Tidak seperti vihara yang sebelumnya kujumpai yang terkadang tidak terlihat dari sisi jalan. Tapi ini benar-benar sangat terlihat. Membuatku penasaran ingin tahu. Sehingga sering juga rasa itu muncul selagi aku melewati jalan itu.

RENO SI PENJUAL PLASTIK

v 6 Februari 2010

Hari Sabtu itu, setelah melakukan aktivitas seharian di kampus, tanpa rencana dan pedoman wawancara yang terstruktur saya pergi naik kereta dari stasiun UI bersama seorang teman menuju stasiun Duren Kalibata. Di Stasiun Duren Kalibata kami naik sebuah metromini yang akan membawa kami menuju ke Cililitan, Jakarta Timur. Sesampainya saya di Cililitan, tepatnya di dekat PGC, saya berpisah dengan teman saya untuk menaiki mikrolet yang akan membawa saya ke Pasar Kramat Jati.

Pasar Kramat Jati merupakan pasar andalan bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang Jalan Raya Bogor karena pasar tersebut lengkap isinya. Selain merupakan pasar tradisional yang ramai dari subuh sampai malam hari, Pasar kramat Jati juga memiliki Ramayana, pusat perbelanjaan modern.  Jadi masyarakat bisa memilih salah satunya atau berbelanja di dua tempat sekaligus.

Cuaca mendung dan udara dingin membuat saya langsung cepat-cepat berkeliling pasar tanpa terlalu berpikir. Satu putaran, kemudian dua putaran, untuk melihat situasi kondisi pasar secara keseluruhan dan mencari partner subyek observasi saya. Saya memperhatikan bahwa banyak laki-laki berumur sekitar 14-20 tahunan memegang plastik sambil menawarkan jasa angkut barang belanjaan ibu-ibu yang sedang berbelanja.

Lalu timbul ide untuk membelanjakan uang untuk membeli buah-buahan. Saya mendekati lapak bapak penjual buah duku dan bertanya. “Berapa sekilo pak?” Bapak penjual duku menjawab, “Sepuluh ribu neng.” Kemudian saya perhatikan bahwa ada anak laki-laki yang mencoba mendekati saya dan berkata menawarkan, “Kak, plastiknya kak.”  Kemudian saya tersenyum dan berkata. “Berapa satunya dek?” Si anak laki-laki penjual plastik tersebut menjawab, “Seribu kak.” Saya merespon, “Oh. Mau donk satu.” Lalu saya berpaling lagi ke bapak penjual duku dan berkata , “ Sembilan ribu saja ya pak. Bungkusnya pakai plastik ini saja”. Sambil menunjuk plastik yang dibawa-bawa anak lelaki tersebut. Bapak penjual duku tersebut setuju sambil membungkus buah duku dan berkata, “Pakai plastik dari saya aja neng. Plastik itu terlalu besar.” Sambil menunjuk plastik yang dipegang oleh anak lelaki penjual plastik. Saya menjawab, “Tidak apa-apa bang. Saya mau pakai plastik yang besar itu saja. Terima kasih ya bang.” Bapak penjual duku itu pun setuju sambil menimbang buah dukunya dan meninta plastik dari psi penjualplastik untuk dibungkus. Lalu memberikannya kembali kepada si anak lelaki penjual plastik utuk dibawa. Saya memberikan uang sepuluh ribu rupiah dan mengantongi uang kembalian yang diberikan bapak penjual  duku itu.

Lalu saya memandang si penjual plastik dan berkata, “Ayo. Lanjut” Ia pun tersenyum dan mengikuti saya yang berjalan-jalan sambil melihat-lihat isi pasar yang lain. Dari buah-buahan, daging-dagingan, ikan-ikanan, dan sayur mayur dijual lengkap di dalam Pasar Kramat Jati ini.
Saya pun berhenti di lapak bapak penjual buah pisang untuk membeli Pisang Barangan. Setelah melakukan penawaran dan membeli satu sisir pisang seharga sepuluh ribu rupiah, saya memasukkannya ke dalam plastik yang dibawa oleh si anak lelaki penjual plastik. Kemudian berkata lagi, “Eh, tau tempat yang jual mie ayam gak?” Si anak lelaki penjual plastik tersebut berkata, ”Ngga tau kak.” “Oh ya sudah kita cari ke depan yuk.” Saya menjawab.

Hari semakin sore dan hujan rintik-rintik berubah menjadi deras. Karena si anak lelaki tukang plastik ini tidak mempunyai lapak atau tempat berjualan, ia hanya menjajakan plastiknya sambil menawarkan jasa angkut barang belanjaan, maka saya memutuskan untuk mengajaknya makan mie ayam pangsit di dekat pintu masuk Pasar Kramat jati sambil mengajaknya mengobrol. Disitulah saya bertanya sambil makan dan mengobrol santai tanpa menulis dan membaca tanpa catatan apapun. Ia pun makan sambil menjawab pertanyaan saya sambil terkadang menerawang jauh. Sampai bapak dan anak penjual mie pangsit kadang ikut menyambung pembicaraan kami. Lama-kelamaan, tempat penjual mie pangsit tersebut ramai oleh orang yang ingin menunggu hujan reda sambil berteduh untuk makan. Setelah makan mie ayam, hujan pun belum reda. Saya menawarkan untuk memakan buah duku yang tadi saya beli. Ia sambil malu-malu tapi mau sama seperti waktu saya menawarkan makan mie ayam akhirnya menuruti permintaan saya. Pada saat itulah saya memutuskan untuk pulang dan memintanya untuk bekerja sama dengan saya dalam tugas observasi ini. Lalu saya hanya sekedar iseng untuk bertanya apakah ia memiliki nomor yang bisa dihubungi. Saya pun kaget mengetahui bahwa ia memiliki telepon genggam yang walaupun bukan teknologi terbaru. Kemudian saya berjanji akan kembali lagi minggu depan untuk mengobrol dan bertanya-tanya sedikit mengenai kehidupannya. Ia pun setuju asaja dan terlihat senang seperti senang karena memiliki teman baru.

Terakhir, setelah hujan agak reda saya kembali ke lokasi dimana saya bertemu dengan si anak lelaki penjual palstik tersebut untuk mengambil beberapa gambar foto untuk pelengkap hasil observasi saya.

v 13 Februari 2010

Seperti yang dikatakan oleh pengarang buku The Alchemist, Paulo Coelho menulis di dalam akun Twitternya, “Sometimes the “wrong” train can take us to the right place”. Mengapa demikian, karena dalam perjalanan observasi saya yang kedua saya mengalami hambatan gangguan kereta berjam-jam karena hujan deras yang mengakibatkan Kalibata banjir. Tetapi saya sudah berjanji untuk kembali dan melakukan kunjungan untuk terakhir kalinya. Seperti isi sms dan telepon yang kami lakukan dalam 1 minggu setelah perjumpaan kami yang pertama. Saya membawakannya foto-foto yang saya ambil minggu kemarin.

Lagi–lagi karena tidak ada tempat untuk mengobrol, saya mengajaknya makan mie rebus di kedai kopi kecil dengan gerobak. Kali ini saya menggunakan catatan dan bertanya lebih detail lagi.

Waktu pun berjalan sampai sekitar jam delapan malam. Kami mengobrol dan sekali-kali bercanda dengan bapak-bapak yang menongkrong di kedai kopi tersebut sambil menikamati kopi mereka. Hanya saya saja yang seorang gadis perempuan disitu. Mereka tertarik dan bertanya siapakah saya dan apakah yang saya lakukan. Saya mencoba menjelaskan bahwa saya adalah mahasiswa yang mempunyai tugas wawancara.

Berikut detail yang saya tulis dalam obrolan saya dengan si anak tukang penjual plastik.

Nama                                 : Reno Alfiansyah

Tgl Lahir                           : 10 Agustus 1995

Umur                                 : 15 tahun

Agama                               : Islam

Suku                                  : Sunda

Status                                : Belum kawin

Pendidikan Formal          : MTS (Madrasah Tsanawiyah) Nurul Hikmah. (setaraf SMP)

Pekerjaan                          : Penjual plastik (Minimal 35 plastik. Maksimal 45 plastik).

Waktu Bekerja                  : Pukul 6.00  – 24.00

Penghasilan                       : Rp 1.000.000 per bulan

Pengeluaran                      : Rp (Makan 4 kali dalam sehari). Rp 5.000 sekali makan. Rp 1.000 untuk satu batang rokok.

Nama Orang Tua              : Endang (Ayah) & Cicih (Ibu)

Saudara Kandung              : Teguh Palestin

Pekerjaan Orang Tua        : Pedagang asongan, penjual rokok (Ayah) & Sekarang Ibu rumah tangga (Ibu). Pencuci baju dirumah majikan (sejak SMP berhenti kerja tidak lagi).

Penyakit yang diderita      : Sakit maag

Teman Sebaya                    : Islah, Fajar, Yusuf, Acep (SMA), Achmad (PGRI), Sugih, Arif.

Semuanya sudah bekerja. Rata-rata umur 15 – 17 tahun. Salah satunya bekerja di pabrik roti di Cibubur.

Suka / Duka                        : Mempunyai banyak teman akrab.

Pengalaman                        :

–          Pernah mengutang di warung hampir 1 minggu sekali di toko kelontong.

–          Ditawarkan pekerjaan sebagai penimbang gula / terigu selama 1 minggu dikhususkan untuk hari selasa karena pekerja yang bersangkutan pulang kampung.

v Penutup

Setelah saya lihat, dengar, dan rasakan, saya menemukan bahwa partner observasi saya lebih membuka diri pada saat pertemuan kedua. Fakta bahwa ibunya telah melahirkan anak kedua pada minggu kemarin, Hari Selasa tanggal 9 Februari 2010 terungkap disaat saya mengira ia hanya anak tunggal yang menghidupi ayah dan ibunya. Sekarang ia pun harus menanggung adik bayi kecil yang datang menghiasi kehidupan keluarganya mulai saat ini.

Saya merasa prihatin kepada nasib untuk seorang ukuran anak remaja yang sudah bisa menghidupi dirinya sendiri dan keluarga tetap tidak bisa memilih jalan hidupnya. Hal ini terlihat pada suatu peristiwa yang ia ceritakan bahwa ia pernah ditawari pekerjaan untuk bekerja di PGC untuk menjaga toko siomay oleh ibu-ibu yang pernah ia bawakan barang belanjaannya. Setidaknya pekerjaan tersebut lebih nyaman karena berada dalam atap ber-AC dan dapat gaji tetap. Tetapi karena sampai saat ini pun ayahnya yang memegang keputusan dan walaupun ia yang menghidupi seluruh keluarganya, ia masih tetap patuh kepada keputusan yang telah ditetapkan oleh ayahnya.  Dalam situasi yang serba kesulitan setidaknya ia tidak terjebak kedalam kenakalan remaja sesusianya, yang kebanyakan sudah menyerah terhadap keadaan. Buruh remaja si Reno ini menjadi dewasa sebelum waktunya demi orang-orang yang dicintainya.

Is it the right time?

Seseorang selalu menunggu waktu yang tepat untuk sesuatu hal.
Like me. I’m sitting at the living room, eating STJK’s favourite food, banana (because it’s late and i’m hungry), trying to create blog because i want to become a good writer. At least a proper writing for a manuscript, script, etc (Only for that. Not like to write a book, for God sake). In pursuit one of my dream is work on media.
But right now, this dreamer girl really need dreams in literally. Really need hit the bed. Because it’s 2 am. I have to go to work tomorrow. Work (again) until late to prepare the audit to come next week.
Wish me luck universe.